Tanaman Bakau Jenis Rhyzophora mucronata

Category : Lingkungan
Tanaman Bakau Jenis Rhyzophora mucronataby Bang Fadlieon.Tanaman Bakau Jenis Rhyzophora mucronataAreal Pertumbuhan Rhyzophora mucronata Jenis tanaman ini dominan tumbuh di Pulau Bali bagian Barat dan Pulau Lombok, yaitu pada areal di Permukaan garis pantai dan kadang-kadang pada pantai berpasir. pada habitatnya yang baik, jenis tanaman ini dapat mencapai tinggi 30 meter, tetapi di bali dan Lombok tingginya hanya mencapai 20 meter. Sosok Tanaman Bakau Jenis […]
Areal Pertumbuhan Rhyzophora mucronata

Jenis tanaman ini dominan tumbuh di Pulau Bali bagian Barat dan Pulau Lombok, yaitu pada areal di Permukaan garis pantai dan kadang-kadang pada pantai berpasir.

pada habitatnya yang baik, jenis tanaman ini dapat mencapai tinggi 30 meter, tetapi di bali dan Lombok tingginya hanya mencapai 20 meter.

Sosok Tanaman Bakau Jenis Rhyzophora mucronata

1. Perakaran

sifat jangkauan perakaran berkembang dengan baik, ukuran jangkauan perakaran sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pada lokasi pohon tersebut.

2. Pohon

Pada saat tanaman ini masih muda, kulit pohonnya kelabu, lentisel pada batangnya berwarna terang.

3. Daun

Bentuk daun jenis Rhyzophora mucronata adalah paling lebar dibandingkan dengan jenis Rhyzophora lainnya. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua sampai hijau kekuning-kuningan. Panjang daun 13-23 cm dan lebarnya 8-12 cm berbentuk elips atau oval telur.

4. Bunga

Bunga dalam satu malai banyaknya 4-16 biji, calix panjangnya 14-16 mm dengan lebar 7-9 mm, berwarna hijau kekuning-kuningan pada saat masih muda. daun bunganya terdiri dari 4 helai. Benang sarinya pendek yaitu 1-2 mm dan indung telurnya 3-4 mm pada kepala putik.

5. Buah

Ukuran buah Rhyzophora mucronata panjangnya 6-8 cm dan lebarnya 2-3 cm, panjang benih rata-rata 90 cm, meruncing ke bagian ujung. Benih ini berbentuk batang setelah menancap di lahan pertumbuhannya.

TEKNIK PENYIAPAN BIBIT DAN PENANAMAN BAKAU JENIS Rhyzophora mucronata

Teknik Penyiapan Bibit Bakau Jenis Rhyzophora mucronata

1. Penyiapan Tempat Penyapihan untuk Pembuatan Persemaian

Tempat penyapihan diusahakan berada pada tempat yang lapang datar dan tidak jauh dari lokasi penanaman dan terjangkau oleh keadaan pasang surut air laut yaitu paling tidak 30 kali dalam sebulan.

Jika hal ini tidak terpenuhi, maka diperlukan adanya kegiatan tambahan berupa penyiraman dengan air laut yaitu sebanyak 2 kali setaip hari yaitu setiap pagi dan sore. Areal persemaian dipergunakan untuk pembuatan bedeng seluas 70% dan 30% lagi untuk keperluan sarana prasarana seperti jalan inspeksi, saluran air, gubuk kerja dan bangunan lainnya.

1. Penyiapan Media

* Penyiapan media untuk pengisian pot/kantong plastik, media diambilkan di sekitar lokasi persemaian, dengan komposisi campuran media berupa campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 2:1.

* Untuk memudahkan pengambilan dan pengangkutan media ke pondok kerja atau lokasi pengisian kantong plastik (pooting house), dapat dilakukan dengan menggunakan alat angkut seperti box dan atau dengan menggunakan kendaraan pengangkut.

* Tanah/media untuk mengisi kantong plastik agar diayak terlebih dahulu hingga media tersebut bersih terpisah dari bahan bebatuan maupun sampah plastik dan lain-lain.

* Media hasil ayakan kemudian dimasukkan ke dalam pot/kantong plastik untuk selanjutnya siap dipindahkan ke bedeng semai.

2. Pembuatan Bedeng Sapih/Bedeng Semai

* Bedeng sapih dapat dibuat berukuran 1 x 5 m atau 1 x 10 m sesuai dengan keperluan dan arahnya memanjang ke Utara-Selatan.

* Bedeng sapih diberi batas berupa belahan bambu atau papan, agar kantong plastik tidak terguling oleh aliran pasang surut air laut. Untuk menghindari serangan kepiting pada bagian sisi/pinggir bambu atau papan tersebut dapat dilapisi plastik.

* Bedeng diberi naungan dengan menggunakan anjang-anjang beratap dengan ketinggian kurang lebih 1 m dengan daya naung sekitar 50% – 75%. Naungan ini kelak dibuka 1 bulan setelah bibit siap dipindahkan ke lapangan/areal penanaman.

* Polybag/kantong plastik yang sudah terisi dengan komposisi campuran tanah dan pasir 2 : 1, selanjutnya ditata dalam bedeng yang telah diberi naungan.

3. Pengadaan Benih

Pengumpulan benih dilakukan secara langsung memetik atau mengumpulkan benih yang sudah jatuh di sekitar pohon induk.

* Memetik langsung dari pohon induk

Pemetikan benih secara langsung dari pohon induk memerlukan ketrampilan dan pengetahuan khusus, terutama dalam menilai atau memilih benih yang sudah matang dan berkualitas baik. Usahakan jangan sampai merusak/memotong cabang maupun ranting dari pohon induk tersebut.

Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara :

o Memanjat atau menggunakan galah.

o Pilih buah yang betul-betul matang dengan kondisi sehat dan segar.

o Hindari perlakuan menggoncang-goncang pohon, batang dan ranting, untuk menghindari jatuhnya buah yang belum matang.

* Mengumpulkan benih/buah jatuhan

o Buah jatuhan yang dikumpulkan harus dalam keadaan relatif segar dan sehat, adakan seleksi kemungkinan benih tersebut cacat (antara lain : terkena serangan seed bore, scale insect, ulat)

o Perlu dihindari pengumpulan buah matang yang sudah keluar akarnya, apalagi mencabut buah jatuhan yang sudah bersemai.

Cara pengumpulan benih dari buah jatuhan ini mudah dilakukan dan benih yang berkumpul tentu sudah matang. Benih hasil pemetikan langsung harus dipisahkan pengumpulannya dari buah/benih jatuhan. Hal ini penting kaitannya dengan seleksi benih di persemaian nantinya.

Pengumpulan buah/benih bakau lebih menguntungkan jika dilakukan pada musim puncaknya. Musim puncak berbuah tanaman bakau jenis Rhyzophora mucronata untuk daerah bali yaitu pada bulan September s/d Nopember. Sedangkan untuk daerah Jawa Timur dan Gilisulat (NTB) yaitu pada bulan Nopember s/d Desember.

Untuk mengetahui bahwa benih Rhyzophora mucronata sudah matang yaitu dengan meneliti bahwa cotyledon berubah warna dari hijau menjadi kuning dan buah berubah warna dari hijau menjadi coklat.

* Penyiapan benih sementara

Setelah benih terkumpul, selanjutnya diangkut menuju pondok kerja/potting house untuk mendapatkan perlakuan selanjutnya. Pengangkutan ini sebaiknya dengan menggunakan ember atau kardus untuk menghindari bibit jangan sampai rusak dan benih jangan dibasahi.

Benih hasil pengumpulan ini sebaiknya disimpan di tempat yang teduh dengan perlakuan sebagai berikut:

o Benih disimpan dalam ember yang berisi air laut.

o Posisi benih tegak lurus dan bagian pertumbuhan akar menghadap ke bawah.

o Diusahakan benih terendam setengah bagian panjang benih.

o Perendaman (penyimpanan sementara) secara umum dapat dilakukan selama 10 hari, pada prinsipnya akar tidak sampai terlanjur keluar.

* Pembibitan

o Benih yang akan disemaikan diseleksi terlebih dahulu di potting house agar benih tersebut benar-benar baik dan segar.

o Penyemaian/penaburan benih dilakukan dalam pot/kantong plastik yang sudah terisi media dan tertata dalam bedeng yang sudah diberi naungan. Selang waktu 1 hari sebelum penyemaian, media dalam kantong plastik dibasahi.

o Kedalaman penaburan untuk jenis Rhyzophora mucronata yaitu 5-10 cm, sedangkan untuk jenis Rhyzophora apiculata 5 cm, Bruguiera gymnorhiza 5 cm, Ceriops tagal 5 cm.

Benih-benih jenis Rhyzophora mucronata di persemaian yang telah mulai bertunas walaupun sudah kena pasang surut air laut, harus tetap diadakan pemeliharaan bibit antara lain:

o Pengendalian terhadap hama kepiting dann serangga.
o Penyemprotan dengan air laut.
o Penyulaman terhadap bibit yang mati.
o Setelah berumur 5 bulan diadakan seleksi bibit siap tanam.

Teknik Pembuatan Tanaman Bakau Jenis Rhyzophora mucronata

Dikenal dua sistem pembuatan tanaman bakau, yaitu:

1. Sistem Banjar Harian

1. Persiapan Lapangan/Prakondisi

* Pembersihan lapangan diawali dengan pembersihan terhadap sampah, baik berupa plastik bekas, dahan maupun ranting.
* Apabila lokasi penanaman berupa tambak, maka tambak tersebut harus di”bero” minimal 1 tahun baru bisa ditanami.

2. Pengukuran Ketinggian Tempat

Pada prinsipnya pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui frekwensi pasang surut air laut di bagian areal tertentu. Setelah dilanjutkan dengan penelaahan kondisi tapak yang menyangkut kedalaman lumpur, kandungan pasir, pecahan karang termasuk ada tidaknya gundukan rumah udang dan rumah kepiting.

3. Penentuan Jenis Tanaman

Penentuan jenis tanaman dengan terlebih dahulu memeriksa/membandingkan ketinggian tempat antara tapak yang akan ditanami terhadap kondisi kemampuan hidup dan pertumbuhan pohon bakau yang sudah ada di sekitar lokasi. Melalui prosedur ini dan dengan memperhitungkan kondisi tapak, akhirnya ditentukan jenis bakau yang layak ditanam di lokasi tersebut.

4. Penentuan Jarak Tanam

Ukuran jarak tanam yang layak memang belum diketahui dengan pasti, namun secara umum berasarkan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa jarak tanam pendek (1 x 1 m) memberikan hasil yang lebih optimal.

5. Penyiapan Benih/Bibit

Pekerjaan ini dilakukan melalui koordinasi dengan bagian persemaian yaitu menyangkut kebutuhan benih/bibit dalam periode setahun dimana setiap bulannya telah dijadwalkan kebutuhannya (jenis, bentuk benih/bibit). Penyiapan bibit yang akan ditanam di lapangan, selang waktu satu bulan naungan harus dibuka 100% dengan maksud agar bibit tersebut dapat beradaptasi setelah nantinya dipindahkan ke lapangan.

6. Pengangkutan Bibit

Alat angkut yang digunakan untuk mengangkut bibit adalah bervariasi sesuai dengan kondisi lapangan (melalui darat atau air).

7. Musim Penanama

Penanaman dapat dilakukan pada musim kemarau maupun musim penghujan. Namun atas dasar pengalaman di lapangan, penanaman yang dilakukan pada musim penghujan menunjukkan keberhasilan yang lebih baik.

2. Sistem Tumpang Sari/Wanamina

Tahapan-tahapan pekerjaan sistem wanamina ini antara lain sebagai berikut:

1. Pembuatan petakan tambak yang dimulai dari pengukuran luas petakan, besar dan tinggi tanggul dalam bentuk profil yang terbuat dari belahan bambu. Besar dan tinggi tanggul disesuaikan dengan keadaan pasang surut air laut, disamping juga memperhatikan keadaan tanah dan luasan petakan tambak. Pada tanah yang kondisinya labil (mudah longsor0 tanggul hendaknya dibuat lebih lebar, beaik lebar dasar maupun lebar atas tanggul. Begitu pula dengan keadaan luas petakan yaitu semakin luas petakan maka akan membutuhkan semakin lebar pembuatan tanggul. Tinggi tanggul disesuaikan dengan keadaan pasang tertinggi air laut dengan dilebihkan tingginya 30-40 cm untuk menjaga air pasang (jangan sampai meluap ke atas tanggul).

2. Pembuatan caren/areal pemeliharaan ikan, dibuat mengelilingi pelataran tambak atau mengikuti dasar lereng bagian dalam tanggul selebar lebih kurang 5 meter dengan kedalaman 40 cm dan lebih dalam dari dasar pelataran tambak. Hasil galian pembuatan caren ditimbun pada bagian tanggul yang sekaligus membentuk tanggul.

3. Pembuatan pelataran tambak/areal penanaman bakau. Kegiatan ini tidak memerlukan pekerjaan banyak, cukup dengan membersihkan dan meratakan tanah asli. Kegiatan pembersihan areal pelataran tambak terhadap sampah maupun bekas cabang dan ranting bertujuan untuk mengantisipasi agar air yang masuk ke dalam tambak tidak menjadi kotor sehingga organisme air yang tumbuh didalamnya dapat berkembang dengan baik.

4. Pembuatan saluran dann pintu air bertujuan untuk memasukkan dan mengeluarkan air ke dalam dan keluar tambak serta mengatur air di dalam tambak.

5. Pembuatan jalut tanaman dan penanaman bakau perlakuannya sama seperti pada perlakuan penanaman pada sistem banjar harian.

6. Penanaman bakau dan pembudidayaan ikan dilaksanakan pada caren dan pelataran tambak, yaitu : penanaman bakau dilakukan pada pelataran tambak, sedangkan pemeliharaan dan pembudidayaan ikan dilakukan pada caren dan pelataran tambak.

Pencarian:

tanaman bakau, budidaya tanaman bakau, jurnal bakau, jurnal tanaman bakau

Avatar for Bang Fadlie

Author: 

Pengalaman Bekerja di STIKEP Muhammadiyah Pontianak, membuat saya ingin berbagi masalah-masalah kesehatan, Selain itu saya yang hobi bercocok tanam dan memadukan artikel-artikel tersebut disini.

Related search

    No internet connection No internet connection

Related Posts